Jika Engkau Mencintai Allah maka Ikutilah Nabi Muhammad

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Menuntut Ilmu adalah Kewajiban kita

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)

Tauhid adalah pokok dari agama

Tauhid (Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Dibagi atas tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat.

Pemuda Mengubah Dunia

Bila kita buka kembali sejarah bahwa konstatinopel ditaklukkan oleh seorang pemuda, Muhammad Al-Fatih


Ebook Murah Belajar Service Laptop ++
Showing posts with label Kata Mutiara. Show all posts
Showing posts with label Kata Mutiara. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Hidup Itu Proses

“Perjalanan seribu mil dimulai satu langkah pertama”
_pepatah China_

Kawan ! Kalau boleh bertanya, “Pernahkah kita merasa tidak pantas mengerjakan sesuatu?”. Semacam ada rasa takut bercampur trauma. Coba ingat-ingat waktu kecil ketika anda dengan polosnya manjat pohon. Abis manjat turun sambil lompat. Apa yang anda rasakan? Sakit bahkan trauma tidak mau lagi manjat. Bedanya sekarang, sudah punya tubuh yang kuat kekar, apapun bisa dilakukan. Pernah kita berfikir akan satu nikmat ini?


Hidup itu berproses! Ada kalanya belum saatnya kita kerjakan. Dalam segala lini kehidupan-pun selalu mengakui adanya tahapan-tahapan. Maka dalam menuntut ilmu juga begitu. Bagaimana jadinya, anak SD yang baru belajar membaca langsung disuruh berpidato. Atau anak SMP dikasi pelajaran Mahasiswa semester terakhir. Kalau tidak bingung pastinya pusing.

Tidak serat merta memahamai segala ilmu tanpa ada proses. Makanya salah satu buku fenomenal, “Ihya’ulumuddin” karya imam al-Gazali jadi teka-teki. Dari buku ini banyak menginspirasi timbulnya kelompok-kelompok islam. Sebutlah sufi, paling banyak mengambil rujukan dari buku ini. Tak dipungkiri ulama ahlusunnah wal jama’ah juga banyak menukil. Sebutlah minhajul Qosidin karya Imam Ibnu Qudamah merupakan ringkasan Ihya’ulumuddin. Nah siapa yang salah, bukunya atau orang yang mempelajarinya? Kalau orang yang belajar berproses, pastinya akan tahu dan tidak kewalahan dalam membaca mempelajari suatu buku.

Atau lebih tinggi dari itu, al-Qur’an dan as-Sunnah. Sama –sama sumbernya kok hasilnya berbeda. Yang salah sumbernya atau yang mempelajarinya. Satu kata kunci, perlu proses dalam belajar. Boleh jadi baru mengerti sedikit bahasa Arab atau sama sekali tidak paham sudah berani menafsirkan al-Qur’an sendiri. Berfatwa sana sini padahal baru belajar hadits arba’in itupun terjemahan. Baru satu pekan belajar ngaji sudah berani mengeluarkan fatwa padahal urusan shlalatnya belum beres.

Sering kita dengar, “Jangan belajar sama ustadz Anu, karena sudah ditahsir”. Bayangkan makhraj huruf tahsir seharusnya tahdzir belum beres sudah berani bikin tahdziran. Ulama sekaliber Imam Bukhari saja, kalau menyebutkan salah satu perawi hadits yang mecurigakan. Masih menggunakan kata-kata, “masih perlu dikaji, . padahal itulah sehalus-halusnya komentar. Pantasnya Beliau menggunakan, “pendusta, pembohong, dajjal” tetapi itu tetap dihindari. Siapa kita dari sekedar Imam Bukhari?

Semasa kecil, apakah tidak etis kalau anak bayi langsung dikasi nasi atau jagung? Pastinya si Ibu memberi asi, lalu umur setahun dibuatkan bubur dihaluskan sebaik mungkin. Tidak sayangkah ibu kalau tidak memberi ayam goreng saat itu? Ataukah anak bayi memang tidak butuh dengan makanan bergizi tadi? Ya jawabannya butuh tapi belum saatnya.
Begitupula dalam menutut ilmu, mempelajari agama ini. Butuh proses. Jangan berharap seperti ulama-ulama dahulu kalau tidak menjalani tahapannya. Dahulu ulama mengawali karir menuntut ilmu dengan menghafal al-Qur’an begitupula hadits. Kemudian belajar bahasa arab, bahasa penduduk surga. Bahkan ada ulama cuman belajar bahasa dan ilmu alat ( nahwu shorof) sampai 10 tahun.

Tidak sampai disitu, hafal al-Qur’an paham bahasa arab belum tentu bisa menafsirkan al-Qur’an. Itulah bedanya ilmu dan fiqh alias pemahaman. Banyak orang diberi ilmu tapi tidak dikaruniai pemahaman. Maka sampai Nabi-pun berdo’a, “Ya Rabb tambahkanlah kepadaku ilmu, dan karuniakan pemahaman”.
Sehingga dalam proses itu sangat nampak pada tahapan-tahapannya. Memulai dari hal-hal yang relative mudah, lalu naik sedikit lebih tinggi. ada anekdot, apa bedanya dosen dan Guru Besar? Katanya dosen itu mempermudah apa yang sulit, sedang Guru Besar mempersulit apa yang mudah. Sesuatu yang meluas semakin diperdalam. Itulah kenapa sampai ada Prof. Wau. Karena khusus mempelajari seluk beluk asal usul huruf waw dalam bahasa arab. Padahal ini hanyalah sesuatu yang sederhana. Tetapi Karena terus digali didalami jadinya semakin sulit.

Dan dari proses kehidupan ini akan membuat kita semakin dewasa. Semakin matang akan tantangan kedepannya. Kalau anak kecil umuran sebulan langsung mau lari itu mustahil. Dia harus belajar baring dahulu, melata dan berdiri seimbang. Sedangkan untuk berjalan saja butuh proses, bagaimana lagi dengan menuntut ilmu?

Menjadi pribadi yang paripurna juga butuh proses. Dan itulah pentingnya tarbiyah dalam kehidupan. Proses perubahan pribadi seseorang menuju pribadi muslim yang muslih, mukmin, mujahid dan mutqin!
Makanya sangat diperlukan tahapan-tahapan dalam sistem pendidikaan. Menyusun karya ilmiah saja dimulai Bab I pendahuluan, rumusan permasalahan. Kalau anda langsung buat kesimpulan dan saran yakin karyanya rancu. Makanya Ibnu Khaldun punya buku berjilid-jilid. Sebelumnya ia sekedar menulis terlebih dahulu muqaddimah. Konon muqaddimah beliau tulis lebih banyak jilidnya dibanding buku (isi) sendiri. so dalam menuntut ilmu dunia saja butuh proses bagaimana lagi dengan ilmu syariat ini?

Muhammad Scilta Riska

Sunday, October 7, 2012

Dia kok sombong sih?


Sedikit cerita,,,

===
Ada seorang ikhwan yang sedang melangkahkan kakinya menuju pasar, namun dalam satuan langkahnnya ia melihat seorang akhwat berjalan berlawanan arah dengannya. Ternyata akhwat itu adalah azizah, teman sekelasnya. Karena sudah lama tak bertemu dengan teman lama, ikhwan itu langsung menegurnya, “hei, izizah”. Namun jauh dari dugaan, sang akhwat meneruskan perjalanan setelah sedikit menatapnya. Sang ikhwan tiba-tiba membuat keputusan untuk tidak lagi menyapanya. “Sombong banget itu orang, padahal dia temen yang tak pernah ketemu. Ketemu sekali aja, sombong banget.”.

===

Sahabat, mungkin kita sering mendengar orang mengatakan saudaranya atau temannya “sombong”. Tapi apa sih sebenarnya sombong?
Sombong sebagaimana oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah “melecehkan orang lain dan menolak kebenaran” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Sombong itu penyakit hati dan bukanlah penyakit fisik, jadi hanyalah Allah-lah yang tahu dan bisa memastikan apakah seseorang mempunyai sifat sombong atau tidak. Jadi sebagai manusia, insan yang banyak salahnya, tidak ada hak untuk mendokrin seseorang bahwa ia telah sombong. Mungkin sombong bisa terlihat dari sikapnya, tapi apakah kita memperhatikan sisi yang lain bahwa orang islam yang baik itu senantiasa hati-hati dalam mengucapkan kata-kata. Jangan sampai kita terlalu buru-buru mengatakan orang lain itu sombong,, jangan,,, karena boleh jadi yang kita katakan itu tidak ada dalam orang yang kita cela. Sombong itu buruk lho, jadi kalau kita mengatakan bahwa orang lain sombong, namun  sebenarnya orang lain itu tidak sombong maka alangkah buruk sekali ucapan itu.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah pula perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olokan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Qs. Al hujurat:11)

Wahai insan yang Insya Allah tak lelah untuk terus belajar,
Bayangkan bagaimana perasaan orang yang di dikatakan sombong padahal dalam dirinya tidak ada niat sama sekali untuk sombong, terasa sakit kawan. Islam mengajari kita untuk berakhlak mulia, mengingatkan saudara muslim lain yang salah dengan sebaik-baiknya dan menjauhkan diri dari perkataan yang tak benar.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan  katakanlah perkataan yang benar. (QS Al Ahzab [33]:70)

Jadi, mulailah dari sekarang untuk tidak begitu mudahnya mengatakan bahwa sahabat, saudara ataupun teman kita telah berprilaku sombong sebelum mengetahui secara jelas dan detail sifat dia yang sesungguhnya. Lebih baik bagi kita diam dan selalu husnudzan kepadanya.

Rasulullah saw  bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka  hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam". (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.)

Dari penggalan cerita diatas, kita sebagai muslim alangkah tidak tepat mengambil satu kesimpulan dari suatu sikap saudara kita, padahal sangat mungkin bahwa saudara kita bersikap demikian karena ingin menjauhi mudharat. Misalnya, mengapa seorang ikhwan ataupun akhwat tidak menimbal balik sapaan temannya yang bukan mahram di jalan atau dimana saja, karena sangat mungkin bahwa ikhwan/akhwat tersebut menjaga izzah (kemuliaan/kehormatan) nya sebagai kewajiban seorang muslim. Sudah sangat jelas dalam agama kita bahwa antara ikhwan dan akhwat itu ada sekat yang harus senantiasa dijaga, sekali ada celah maka fitnah akan merebak dan ketika merebak maka sangat sulit untuk mengembalikan izzah itu sendiri.
Sahabat, mungkin saudara atau teman kita yang sudah lama tidak bertemu, kita kenal sebagai insan yang (mohon maaf) sering ngobrol dengan lawan jenis, jadi aneh bila ia ketika disapa malah cuek ataupun tidak berbicara lebih lanjut (ngobrol). Ehm... mengapa ya? Alangkah lebih baik kita berbaik sangka dengannya, boleh jadi dia sekarang lebih islami, mempunyai tekad kuat untuk merubah diri untuk senantiasa ittiba’ terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian kita terinspirasi untuk mengikuti langkahnya, merubah diri, bertaubat menuju yang lebih baik.

Jadi kesimpulannya, tak perlulah kita mengatakan sombong atas saudara kita kemudian menceritakan kepada orang-orang, “Dia itu sombong. Lewat aja gak negur. Kalau ditegur aja, pas-pas aja balasnya”, karena itu sudah ghibah. Apalagi kalau yang di ucapkan itu tidak benar, bahkan orang yang dibicarakan itu ingin menegakkan sunnah, maka itu adalah Namimah yang teramat besar dosanya. ‘audzubillah.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk berakhlak mulia, tidak berkata melainkan yang benar, bermanfaat bagi diri dan orang lain.

Friday, September 21, 2012

Yakinlah Kepada Allah Bahwa Kita Bisa Berhasil

Berbicara tentang sebuah keberhasilan dari cita-cita, tidak hanya berbicara tentang usaha dan tindakan, tapi ada suatu faktor keberhasilan yang sering dilupakan oleh banyak orang, yaitu adanya kehendak dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana mungkin kita yang sangat lemah ini bisa melakukan sesuatu hingga mencapai keberhasilan tanpa adanya kehendak dari Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Allah Subhanahu wa Ta'ala Berfirman

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. (QS. Ali Imran : 26)

Wahai saudaraku,
terkadang kita sulit untuk menempuh sebuah proses menuju keberhasilan dalam perkara dunia, pusing, lelah, letih, dan bahkan bisa setres. Begitulah dunia yang akan menyebabkan kita lelah apabila dalam jiwa kita tidak menghiasinya dengan sesuatu yang membuat kita dekat dengan Dzat Yang Maha Berkuasa atas diri kita. Mungkin kita terlalu sombong, berusaha siang malam mengejar cita-cita dan tidak ada dalam benak kita bahwa ada penentu keberhasilan yang paling besar daripada jerih payahnya.


"Aku sudah membuktikan"
Memang bisa, karena Allah memberikan keberhasilan atau kejayaan kepada siapa yang Dia kehendaki, seperti halnya saat ini orang-orang kafir berkuasa, itu semua juga karena kehendak Allah yang sudah di firmankan bahwa kekuasaan dunia ini akan digilirkan.

Lalu pertanyaannya, apakah kita akan menggunakan metode orang-orang musyrikin untuk mencapai keberhasilan di dunia?

Tidak kawan,,
Allah itu Maha Kaya, Maha Tahu, dan Sangat besar cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya di bandingkan para orang kafir,, mereka memang lebih maju tapi mereka tak pernah bisa puas dan bahagianya sangatlah pendek, sedangkan kita bisa meraih kebahagiaan di kedua alam, yaitu dunia dan akhirat. Jadi kita unggul sangat jauh dibandingkan mereka.

Yakinlah,,
apabila kita dekat kepada Allah dan Allah ridha kepada kita, maka apa yang kita inginkan dapat tepenuhi (fikiran harus dewasa). Terus berusaha untuk memperjuangkan agama Allah maka Allah pun akan membantu kita.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad[47]: 7).

 Jadi mulai sekarang,,
robak habis semua mindset kita dalam perkara dunia, jadikan dunia sebagai lintasan menuju akhirat. Buatlah titik ujung dalam perkara dunia kita berupa keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi.

Apabila kita hanya mengejar dunia, maka yang kita dapatkan hanya rasa lelah dan kerugian.




Mulailah dari perkara yang kecil, yaitu memulai aktivitas dengan basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah agar aktivitas kita menjadi berkah. Don't forget untuk terus menuntut ilmu agama, agar kita tak menjadi budak nafsu kita sendiri dan mudah terperdaya oleh godaan setan.






Kuncinya YAKIN dan JALANILAH DENGAN KEYAKINAN ITU, maka Insya Allah kita akan menjadi pribadi yang TERSENYUM BAHAGIA dan Allah mempercayakan kita untuk MENERIMA KEBERHASILAN DI DUNIA, karena Allah yakin bahwa Kita Bisa menegakkan AGAMA-NYA.

========

My Notes

Thursday, August 30, 2012

Kemenangan Besar Buah Keberanian Besar

Mati syahid adalah sebuah kemenangan besar, bahkan kemenangan paling besar. Namun untuk mati syahid bukanlah suatu kemenangan yang mudah dicapai. Mati syahid memerlukan keberanian yang luar biasa. Tanpa keberanian tidak akan yang namanya mati syahid.

Begitu juga dengan kemenangan yang lain. Setiap kemenangan memerlukan keberanian. Semakin besar kemenangan maka semakin besar keberanian yang diperlukan. Ini adalah suatu konsekuensi yang logis. Tidak adil rasanya jika kemenangan besar bisa diraih dengan keberanian yang kecil. jadi jika Anda mengharapkan kemenangan besar, maka Anda perlu memiliki keberanian yang besar pula.

Biasanya dibalik sukses besar selalu ada resiko besar. Resiko inilah yang sering ditakuti oleh orang. Resiko adalah suatu konsekuensi dari setiap kemenangan, kita tidak bisa menghindari resiko. Karena tidak ada suatu kemenangan tanpa resiko. Menghindari resiko berarti menghindari sukses.

Resiko muncul dalam berbagai bentuk dan ragam. Resiko menjadi bagian alami dalam perbaikan berbagai bidang. Setiap kita mengambil keputusan, berati pula kita mengundang resiko. Namun kita berdiam diri diri pun kita akan berhadapan dengan resiko. Resiko, sekali lagi, tidak bisa kita hindari dan memang bukan untuk kita hindari.

Perbaikan diri hanya akan dicapai jika kita mau mengambil resiko. Upaya menemukan sebuah pulau berarti kita harus meninggalkan pulau kita yang lama. Tanpa meninggalkan pulau berarti kita tidak akan pernah menemukan pulau yang baru.

Oleh karena itu, tumbuhkan keberanian dalam diri Anda untuk menempuh perjalanan yang beresiko demi mencapai kemenangan besar. Tentu saja bukan keberanian yang membabi buta, bukan juga keberanian yang nekat, bukan juga keberanian demi meraih hal yang tidak bermanfaat, tetapi keberanian menempuh resiko untuk kehidupan yang lebih baik.

by. I-S

Sunday, August 12, 2012

Koleksi 100 Kata Mutiara 2012



Selalu perbedaan dalam sebuah hubungan, yang kadang menyebabkan masalah, tetapi juga menguatkan.
_________________________________________________________________
Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan. Karena kegagalan adalah cara Tuhan mengajari kita tentang arti kesungguhan. Begitu …
_________________________________________________________________
Tuhanku, apakah Engkau
akan menelantarkan
harapan-harapanku. Ia terbang
dalam naungan kemurahan-Mu.
_________________________________________________________________
Hendaknya kesibukan kita lebih berfokus pada penyempurnaan penunaian kewajiban-kewajiban kita kepada Tuhan, sebab Dia, Tuhan yang sekaligus Pemberi Rejeki pasti akan membalas penunaian kewajiban tersebut dengan anugrah-Nya yang akan mencukupi kebutuhan kita.
_________________________________________________________________
Mulai selalu hari-hari dengan senyuman. Milikilah pesona positif dalam kehidupan dan jadilah inspirasi bagi orang lain, sehingga mereka merasa NYAMAN
_________________________________________________________________
aku ingin jadi embun paling bulir
yang bergelayut di ujung rumput paling hijau
… yang kehadirannya paling hendak kau kecup
_________________________________________________________________
Kebanggaan masa muda adalah: kekuatan dan kecantikan. Sedangkan kebanggaan masa tua adalah: MENGENDALIKAN LIDAH ~
_________________________________________________________________
Kesederhanaan yang bersahaja. Jika kita memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, mana yang Anda pilih; yang glamour atau yang bersahaja … ? Kemegahan yang rendah hati … ~
_________________________________________________________________
Sahabat sjati ialah bkan ia yg mMpu mmbenarkan kata2…tpi shabat sjati ialah ia yg mmPu berkata benar….
_________________________________________________________________
Anda tidak akan pernah salah selama selalu berpegang pada kebenaran.
_________________________________________________________________
Kesempatan terbaik untuk memulai ketika anda mendapatkan ide dan gagasan.
_________________________________________________________________
rhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan.
_________________________________________________________________
“Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih, selalu ada hati yang menerima.”
_________________________________________________________________
Hampir semua pria mampu bertahan menghadapi kesulitan. jika Anda ingin menguji karakter sejati pria, beri dia kekuasaan
_________________________________________________________________
Lebih baik menyimak dulu setiap kritik yg Anda terima, siapa tahu kritik itu bisa membuat Anda lebih besar.



===
sumber : http://www.kumpulankata.com/koleksi-100-kata-mutiara-2012-5-20120627464.html

REMPELAS.com Aman dalam Berbagi
DAPAT UANG