Jika Engkau Mencintai Allah maka Ikutilah Nabi Muhammad

Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31)

Menuntut Ilmu adalah Kewajiban kita

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)

Tauhid adalah pokok dari agama

Tauhid (Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Dibagi atas tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“ … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa’idah: 3]

Pemuda Mengubah Dunia

Bila kita buka kembali sejarah bahwa konstatinopel ditaklukkan oleh seorang pemuda, Muhammad Al-Fatih


Ebook Murah Belajar Service Laptop ++
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

KEAJAIBAN KISAH ASHABUL KAHFI DALAM PENANGGALAN MASEHI & HIJRIAH



Alqur'an telah mengisyaratkan kepada kita tentang perbedaan antara penanggalan dengan hitungan matahari ( Syamsiyah atau tahun masehi ) dan penanggalan dengan hitungan bulan ( tahun Qomariyah atau tahun Hijriyah ).

Pada waktu Allah 'Azza Wajalla menyebutkan kisah “Ashabul Kahfi” dijelaskan bahwa mereka tidur di dalam sebuah gua di atas gunung bersama anjing mereka dalam waktu yang yang sangat lama.

Dalam kisah tersebut disebutkan lama waktu tidur mereka, dimana Allah Ta'ala menyebutkan bahwa mereka tidur selama 300 tahun ditambah 9 tahun.

Setelah diperhatikan ternyata Allah Ta'ala menyebutkan waktu tidur mereka dengan dua hitungan penanggalan :
1. Dengan penanggalan hitungan Syamsiyah ( hitungan matahari atau masehi )
2. Dengan penanggalan hitungan Qomariyah (Hijriyah )

Karena setiap 100 tahun Syamsiyah sama dengan 100 tahun qomariyah ditambah 3 tahun (= 103 tahun ). Maka setiap 300 tahun masehi, maka penanggalan qomariyah ditambah 9 tahun ( menjadi 309 tahun)

Allah Ta'ala berfirman :

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاَثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). ( al-Kahfi : 25)

Sedangkan orang arab dahulu hanya mengetahui penanggalan tahun qomariyah, karena mereka adalah orang – orang yang tidak bisa baca - tulis. Adapun penanggalan tahun syamsiyah tidaklah diketahui di kalangan mereka. Lebih – lebih membandingkan antara penanggalan tahun syamsiyah dengan penanggalan tahun qomariyah.

Isyarat yang teliti antara beda penanggalan matahari dengan bulan ini menunjukkan bahwa kitab ini datang dari Allah 'Azza Wajalla.

Imam Qurtubi rahimahullah berkata :
“An-Naqqosy menghikayatkan yang maknanya bahwa mereka ( Ashabul Kahfi ) tidur 300 tahun syamsiyah ( hitungan matahari ) dengan menghitung hari. Oleh karena yang diberi kabar di sini adalah Nabi yang berasal dari arab ( Nabi Muhammad ) maka disebutlah 9, karena yang difahami olehnya adalah tahun qomariyah ( hitungan bulan ). Tambahan sembilan ini adalah beda antara dua hitungan tahun. Al-Ghoznawi juga menyebutkan seperti itu, yaitu : beda antara tahun hitungan matahari dengan hitungan bulan, karena beda keduanya pada setiap 33 tahun dan sepertiga tahun adalah 1 tahun. Maka setiap 300 tahun beda 9 tahun” ( Tafsir Qurtubi 10/335 )

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
“ Ini adalah kabar dari Allah Ta'ala untuk RasulNya tentang lama waktu tinggalnya Ashabul Kahfi di dalam gua, dari semenjak ditidurkan oleh Allah Ta'ala sampai dibangunkan lagi dan bertemu dengan orang – orang di zaman itu. Lama waktunya adalah 309 tahun dengan hitungan bulan, sama dengan 300 tahun dengan hitungan matahari. Karena beda antara tahun hitungan matahari dengan hitungan bulan pada setiap 100 tahun adalah 3 tahun. Oleh karena Allah menjelaskan : setelah 300 tahun ditambah sembilan”. ( Tafsir Ibnu Katsir : 3/109 )

Ibnu ‘Asyur berkata :
“Maknanya adalah bahwa tinggalnya mereka di dalam gua ditentukan sebanyak 309 tahun tahun. Diuraikan dengan jumlah ini, yaitu 300 tahun ditambah 9 adalah untuk diketahui bahwa penanggalan adalah dengan hitungan bulan dimana dia sesuai dengan penanggalan sejarah arab dan Islam. Dan juga sebagai isyarat bahwa jumlah itu sesuai kadarnya dengan tahun hitungan matahari yang dipakai oleh penduduk Romawi, dimana Ashabul Kahfi adalah dari Romawi.
As-Suhaili berkata : “Orang – orang Nashrani mengetahui kisah Ashabul Kahfi dan memberi penanggalan dengannya”
Ibnu ‘Asyur juga berkata :Saya katakan bahwa orang – orang yahudi yang mengajari orang Quraisy bertanya tentang Ashabul Kahfi (kepada Nabi), mereka menentukan penanggalan bulan dengan hitungan qomariyah (hitungan bulan) dan menentukan penanggalan tahun dengan hitungan siklus matahari. Selisih perbedaan jumlah hari dalam setahun antara tahun qomariyah dengan tahun syamsiyah, menghasilkan satu tahun penuh tahun qomariyah di setiap 33 tahun syamsiyah.Maka jadilah selisih antara keduanya pada setiap 100 tahun menjadi 3 tahun qomariyah. Itulah nukilan Ibnu ‘Athiyah dari An-Naqqosy, seorang ahli tafsir..” ( Attahrir wat Tanwir : 1/2535 )

( Abu Maryam, diambil dari kitab Dalailul Islam oleh : Dr.Ahmad ibn Sa’ad al-Ghomidi )
Diposkan oleh ZILZAAL

Sunday, August 12, 2012

Siapasih Muhammad Nashiruddin Al-Albani?

Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh al-Albani (lahir di Shkoder, Albania; 1914 / 1333 H – meninggal di Yordania; 1 Oktober 1999 / 21 Jumadil Akhir 1420 H; umur 84–85 tahun) adalah salah seorang ulama Islam di era modern yang dikenal sebagai ahli hadits. Salah satu dari 3 kibaril ulama (ulama besar) abad 20 yang dijadikan rujukan ulama-ulama Ahlus Sunnah kontemporer dalam masalah Hadits. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya lantaran ketekunan dan keseriusan mereka terhadap ilmu, khususnya ilmu agama dan ahli ilmu (ulama).Ayah al-Albani, yaitu al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syariat di ibu kota negara Turki Usmani (yang kini menjadi Istanbul). Ia wafat malam Sabtu, 21 Jumada Tsaniyah 1420 H, atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999.

Perjalanan menuntut ilmu

Saat raja Albania yaitu Ahmad Zugu (Zog dari Albania) naik tahta, ia mengadakan perombakan total sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sehingga menjadi maraklah gelombang pengungsian orang-orang yang ingin menyelamatkan keluarganya, salah satu diantaranya adalah Keluarga Al-Hajj Nuh An-Najjati, seorang Ulama madzab Hanafi di Albania sekaligus ayah kandung dari Syaikh Muhammad Nashiruddin, yang mengungsi dari Albania ke Syiria.

Dikota Damaskus, mulailah Al-Albani kecil menunutut ilmu bahasa arab di madrasah Jum’iyyah Al-Is’aaf Al-Khairi. Di sana ia menyelesaikan pendidikan dasar pertama. Kemudian ia melanjutkan studi intensif kepada para ulama terkemuka disekitar kota itu. Ia menimba ilmu Al-Qur’an, tilawah, tajwid dan sekilas tentang fikih Hanafi kepada ayahnya dan menamatkan beberapa buku sharaf. Lalu ia mempelajari buku Maraaqi Al-falaah, beberapa buku hadits dan ilmu balaghah dari gurunya, Syaikh Sa’id Al-Burhaani, beliau juga belajar dari beberapa ulama besar Syiria, Imam Abdul Fattah, Syaikh Taufiq Al-Barzah, dan banyak ulama lain.

Al-Albani muda pada suatu hari melihat sebuah majalah Al-Manar disebuah toko buku dan ia pun tertarik dengan tajuk tulisan yang ditulis oleh Syaikh Rasyid Ridha tentang buku Al-‘Ihya karangan Al-Ghazzali yang berisi pembahasan ilmiyah berkenaan dengan kebaikan dan kekurangan buku tersebut berdasarkan penuturan Al Ghazzali sendiri dan ulama-ulama yang menelitinya. Ia mengikuti seluruh pembahasan ‘Ihyaa’ Uluumuddin hingga dari buku aslinya dan takhrij Al-Hafizh Al-Iraaqi, tanpa terasa dalam usahanya mengikuti pembahasan ini ia harus menelaah buku-buku bahasa Arab, Balaghah dan Gharib Hadits agar dapat memahami nash-nash yang dibaca disamping melakukan takhrij. Saat itulah awalnya ia berkonsentrasi memperdalam ilmu hadits. Walaupun ayahnya selalu memperingatkan seraya berkata: “Ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit.”

Saat mendalami ilmu ini ia tidak sanggup membeli buku-buku yang dibutuhkan, sehingga ia sering mengunjungi perpustakaan Azh-Zhahiriyyah dan disitu ia bisa mendapati dan membaca buku-buku yang tidak mampu ia beli. Ia juga menjalin hubungan dengan pemilik toko buku terbesar di Damaskus sehingga memudahkannya untuk meminjam buku-buku yang diperlukan. Saat ada orang yang mau membelinya baru buku tersebut dikembalikan. Ia sering menghabiskan waktunya menyendiri di perpustakaan Azh-Zhahiriyyah selama berjam-jam, menelaah, menta’liq (mengomentari), mentahqiq (memeriksa) kecuali saat tiba waktu salat. Dan ia seringkali hanya menyantap makan ringan selama di perpustakaan. Oleh karena itu, pihak perpustakaan memberinya ruang khusus, dengan referensi induk untuk kepentingan ilmiah yang ia lakukan. Ia datang pagi hari sebelum petugas perpustakaan datang. Dan biasanya para pegawai perpustakaan sudah pulang ke rumah tengah hari dan tidak kembali lagi, namun Al-Albani tetap berada disana hingga waktu Isya’ tiba. Hal ini ia jalani selama bertahun-tahun.

Dalam kehidupannya, Al-Albani muda adalah seorang yang sangat miskin. Salah sumber mata pencahariannya sebelum menjadi guru adalah melalui reparasi jam yang mana kemampuan ini dia dapatkan dari ayahnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar perhatiannya tercurah pada ilmu. Ia menceritakan bahwasanya ia sering mengambil sobekan-sobekan kertas dari jalan (biasanya berupa kartu undangan pernikahan) yang kemudian akan digunakannya untuk menulis catatannya, karena kemampuannya dalam harta sangatlah minim. Seringkali, ia membeli potongan-potongan kertas dari tempat pembuangan (dengan cara ini ia bisa membeli kertas dengan harga murah dalam jumlah banyak) dan membawanya ke rumah untuk dipakai. Jarak rumahnya hingga ke perpustakaan pun cukup jauh, dan Al-Albani biasa menggunakan sepeda sederhananya untuk pulang pergi menuntut ilmu.

Suatu hari di perpustakaan Zhahirriyyah, selembar kertas hilang dari manuskrip yang digunakan Syaikh Al-Albani. Kejadian ini menjadikannya mencurahkan seluruh perhatian untuk membuat katalog seluruh manuskrip hadits di perpustakaan agar folio yang hilang tersebut bisa ditemukan. Karenanya, ia mendapatkan banyak ilmu dari ribuan manuskrip hadits, sesuatu yang telah dibuktikan beberapa tahun kemudian oleh DR. Muhammad Mustafa A’dhami pada pendahuluan “Studi Literatur Hadits Awal”, dimana DR. Muhammad Mustafa A'dhami mengatakan, “Saya mengucapkan terimakasih kepada Syaikh Nashiruddin Al-Albani, yang telah menempatkan keluasan ilmunya pada manuskrip-manuskrip langka dalam tugas akhir saya”.

Syaikh Al-Albani rutin mengisi sejumlah jadwal kajian yang dihadiri para penuntut ilmu dan dosen-dosen untuk membahas kitab-kitab. Berkat taufiq Allah kemudian kerja kerasnya, maka munculah karya-karya ilmiah dalam masalah hadits, fiqih, aqidah dan lainnya yang menunjukkan betapa luar biasanya limpahan karunia ilmu yang dicurahkan Allah kepadanya berupa pemahaman yang murni, kefahaman pada berbagai macam cabang ilmu agama, serta penelitian yang spektakuler dalam ilmu hadits dan ilmu jarh wa ta’dil. Disamping metodologi ilmiahnya yang benar-benar murni, yang mendudukkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai hakim standar dalam menimbang segala sesuatu dalam hal agama, dibimbing dengan pemahaman Salafus Shalih (pemahaman para Shahabat dan para Imam Tabi'in & Tabi'in Tabi'ut) dalam menafsirkan Al-Qur'an & mensyarah Hadits, serta metode mereka dalam tafaqqud fid dien (mendalami agama) dan dalam istimbath hukum. Semua itu membuatnya menjadi tokoh yang memiliki reputasi yang baik dan sebagai rujukan alim ulama penegak tauhid & sunnah.

Al-Albani senantiasa berkorespondensi dengan banyak ulama, terutama yang berasal dari India, Pakistan dan negara-negara lain, mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan hadits dan agama pada umumnya, termasuk dengan Syaikh Muhammad Zamzami dari Maroko dan ‘Ubaidullah Rahman, pengarang Mirqah al-Mafatih Syarh Musykilah al-Mashabih.

Syaikh Al-Albani pernah bertemu dengan salah satu ulama hadits abad 20, Syaikh Ahmad Syakir dan ia pun ikut berpartisipasi dalam diskusi dan penelitian mengenai hadits. Ia juga bertemu dengan ulama hadits terkemuka asal India, Syaikh Abdus Shamad Syarafuddin, yang telah menjelaskan hadits dari jilid pertama kitab Sunan Al-Kubra karya Imam An-Nasai, kemudian juga karya Imam Al-Mizzi yang monumental yaitu Tuhfat al-Asyraf, yang selanjutnya mereka berdua saling berkirim surat tentang ilmu. Dalam salah satu surat, Syaikh Abdus Shamad menunjukkan keyakinan beliau bahwa Syaikh Al-Albani adalah ulama hadits terbesar saat ini.

Selama hidupnya, Syaikh Al-Albani telah hafal ratusan ribu hadits beserta sanad sekaligus matan dan rijalnya, ia juga telah banyak meneliti dan men-ta’liq puluhan ribu silsilah perawi hadits (isnaad) pada hadits-hadits yang sudah tak terhitung jumlahnya, dan menghabiskan waktu enam puluh tahun untuk belajar buku-buku hadits, sehingga buku-buku tersebut menjadi sahabat sekaligus berhubungan dengan ulama-ulamanya (pengarang kitab-kitab Sunnah tersebut, pent).

Syaikh Al-Albani wafat pada waktu ashar hari sabtu tanggal 22 Jumadil Akhir, tahun 1420 H di yordania. Penyelenggaraan jenazahnya dilakukan secara sederhana dan dihadiri ribuan orang, mulai dari masyarakat hingga pejabat, bahkan para penuntut ilmu, murid-muridnya, maupun simpatisannya. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan sederhana dipinggir jalan sesuai yang ia harapkan. Ia juga berwasiat agar isi perpustakaannya, baik yang sudah dicetak, difotokopi atau masih tertulis dengan tulisannya atau tulisan selainnya agar diberikan kepada perpustakaan Al-jami’ah A-Islamiyah Al-Madinah Al-Munawwarah. Karena ia memiliki kenangan manis di sana dalam berdakwah kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas manhaj Salafus Shalih, saat menjadi tenaga pengajar disana.

Perkataan ulama tentang Al-Albani :


1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim aalisy Syaikh berkata: “Ia adalah ulama ahli sunnah yang senantiasa membela Al-Haq dan menyerang ahli kebatilan.”

2. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Aku belum pernah melihat di kolong langit pada saat ini orang yang alim dalam ilmu hadits seperti Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani.” Saat ditanya tentang hadits Rasulullah shallahu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan dari umat ini setiap awal seratus tahun seorang mujaddid yang akan mengembalikan kemurnian agama ini.” Ia ditanya siapakah mujaddid abad ini, ia menjawab, “Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, ialah mujaddid abad ini dalam pandanganku, wallahu’alam.”

3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Ia adalah alim yang memilki ilmu yang sangat luas dalam bidang hadits baik dari sisi riwayat maupun dirayat, seorang ulama yang memilki penelitian yang dalam dan hujjah yang kuat.”

Cobaan di penjara

Dalam menegakkan dakwah tauhid diatas landasan manhaj "Salafus Shalih" (pendahulu orang-orang sholeh (Rasulullah & para Shahabatnya)), Syaikh Albani mengalami banyak cobaan. Ia sering menghadapi penentangan yang keras dari orang-orang ekstrimis (khawarij), bahkan juga dari ulama-ulama madzhab yang fanatik, guru-guru sufi, kaum khurafat, dan para liberalis yang menjulukinya sebagai wahabi sesat, bahkan banyak diantaranya yang menebarkan fitnah dan tuduhan-tuduhan tak berhujjah kepada Al-Albani.

Dikalangan khawarij, Al-Albani dituduh sebagai orang munafik yang tak keras terhadap orang-orang kafir dan pelaku maksiat serta dosa besar. Sedangkan dikalangan kaum sufi & liberalis, Al-Albani dituduh sebagai orang khawarij yang gemar mengkafirkan serta memvonis sesat. Selain itu, ada juga sebagian orang yang menuduh bahwasanya Al-Albani telah belajar ilmu agama mutlak secara otodidak tanpa guru maupun sanad, bahkan sempat terbit buku yang berisi biografi palsu tentang Al-Albani yang berisi tuduhan-tuduhan dari beberapa orang yang membencinya dengan tujuan menjatuhkan reputasi keilmuan Al-Albani dimata orang-orang yang sedang semangat belajar padanya.

Dalam merespon tuduhan yang mengatakan bahwa Al-Albani mudah mengkafirkan dan memvonis sesat ini, Al-Albani sempat menulis kitab "Fitnatut Takfiir" yang berisi tentang prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam masalah kufur dan takfir (pengkafiran) untuk membersihkan stigma dalam masyarakat awam bahwa dakwah tauhid itu adalah dakwah para ekstrimis yang brutal. Dengan poin-poinnya sebagai berikut:

1].Masalah pengkafiran adalah hukum syar’i dan tempat kembalinya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2].Barangsiapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislaman itu tidak bisa lenyap darinya, kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula menurut Kitabullah dan Sunah Rasul.
3].Tidak setiap ucapan dan perbuatan (yang disifatkan nash sebagai kekufuran) merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada dua macam, yaitu: kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar). Maka, hukum atas ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan ini, sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metode para ulama Ahlus Sunnah dan hukum-hukum yang mereka sepakati.
4].Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir kepada seorangpun, kecuali telah ada petunjuk yang jelas, terang dan mantap dari al-Qur‘an dan as-Sunnah atas kekufurannya, serta telah sampainya risalah padanya dan telah tegak hujjah atasnya. Maka, dalam permasalahan ini, tidak cukup hanya dengan syubhat dan zhan (persangkaan) atau tuduhan saja.

Namun meski begitu, kebencian dikalangan sebagian orang itu sudah mendarah daging sehingga fitnah itu tetap menyebar sekalipun sudah jelas tak terbukti bahkan jelas-jelas berlawanan dengan prinsip dakwah Al-Albani. Hingga pada puncaknya Al-Albani pun dipenjara karena fitnah dari orang-orang yang memusuhi dakwahnya, namun setelah 6 bulan dipenjara pada akhirnya Al-Albani dibebaskan karena terbukti bersih dari segala macam tuduhan. Sebelumnya ia pun pernah dipenjara selama 2 bulan pada tahun 1967 dengan sebab yang sama. Walaupun banyak orang memusuhinya, namun banyak juga ulama-ulama dan kaum pelajar yang simpati terhadap dakwahnya sehingga dalam majelisnya selalu dipenuhi oleh para penuntut ilmu yang haus akan kajian ilmu yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena ia termasuk ulama penegak dakwah tauhid & sunnah.

Beberapa tugas yang pernah diemban

Keahliannya dalam bidang Hadits diakui oleh banyak ulama hadits yang lain, baik masa lalu maupun sekarang, termasuk DR. Amin Al-Mishri, kepala Studi Islam di Universitas Madinah yang juga termasuk salah satu murid Syaikh Al-Albani, juga Dr. Syubhi Ash-Shalah, mantan kepala bidang Ilmu Hadits di Universitas Damaskus, DR. Ahmad Al-Asal, kepala Studi Islam di Universitas Riyadh, Ulama Hadits Pakistan sekarang, ‘Allamah Badi’uddien Syah As-Sindi; Syaikh Muhammad Thayyib Awkij, mantan kepala Ilmu Tasfir dan Hadits dari Universitas Ankara di Turki; belum lagi pengakuan dari Ulama Kibar dari Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin, Syaikh Muqbil bin Hadi, dan banyak lagi yang lain pada masa berikutnya.

Sebagai pengakuan ulama Arab terhadap keilmuannya mengenai hadits, pihak Al-jami’ah Al-Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) di Madinah Al-munawwarah memilihnya sebagai pengajar materi hadits, ilmu dan fiqih hadits di perguruan tinggi tersebut. Ia bertugas selama 3 tahun dari 1381 H sampai 1383 H. Pada tahun 1395 H sampai 1397 H pengurus Al-Jami’ah mengangkatnya sebagai salah satu anggota majelis tinggi Al-Jami’ah. Saat berada disana ia menjadi tokoh panutan dalam kesungguhan dan keikhlasan. Ketika jam istirahat tiba dimana dosen-dosen lain menimati hidangan teh dan kurma, ia lebih asyik duduk-duduk di pasir bersama murid-muridnya untuk memberi pelajaran tambahan. Hubungannya dengan murid adalah hubungan persahabatan, bukan semata hubungan guru-murid saja. Ia juga pernah diminta oleh Menteri Penerangan Kerajaan Arab Saudi untuk menangani jurusan hadits pada pendidikan S2 di Al-Jami’ah Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1388 H, namun karena beberapa hal keinginan tersebut tidak tercapai. Atas jasanya berkhidmat untuk As-Sunnah An-Nabawiyah, ia mendapatkan sebuah penghargaan dari kerajaan Arab Saudi berupa Piagam King Faisal pada tanggal 14 Dzulqa’idah 1419 H.

Setelah menganalisa Hadits-hadits pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, seorang ulama hadits India, Syaikh Muhammad Musthofa A’dhami (kepala Ilmu Hadits di Makkah), memilih Syaikh Al-Albani untuk memeriksa dan mengoreksi kembali analisanya, dan pekerjaan tersebut telah diterbitkan empat jilid lengkap dengan ta’liq (catatan) dari keduanya. Ini adalah tazkiyah dari ulama yang lain atas keilmuan hadits Syaikh Al-Albani.

Pada edisi dari himpunan Hadits terkenal, Misykah al-Mashabih, penerbit Maktabah Islamy meminta Syaikh Al-Albani untuk memeriksa pekerjaan mereka sebelum diterbitkan. Pihak penerbit telah menulis pada bagian pendahuluan, ”Kami meminta kepada ulama hadits, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, untuk membantu kami dalam memeriksa Misykat dan bertanggung jawab untuk memberi tambahan hadits-hadits yang diperlukan dan meneliti serta memeriksa kembali sumber-sumber dan keasliannya pada tempat-tempat yang diperlukan, dan membetulkan kesalahan-kesalahan…”.

Karya


Hasil karya Syaikh yang telah dicetak, terutama pada bidang hadits dan ilmu perangkatnya (seperti ilmu Mustholah Hadits, Jarh wa Ta’dil, Rijalul Hadits, dll) berjumlah sekitar 112 buku. Tujuh belas diantaranya sebanyak 45 jilid. Ia meninggalkan manuskrip minimal tujuh puluh buah.

Beberapa diantaranya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah:

1].Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah
2].Ahkaamul Janaaiz
3].Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil
4].Tamaamul Minnah fi Ta’liq ‘Alaa Fiqh Sunnah
5]. Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah wa syai-un min fiqiha wa fawaa-iduha
6].Silsilah Ahaadits Adh-Dhaifah wal Maudhuu’ah wa Atsaaruha As-Sayyi’ fil Ummah
7].Shifat salat Nabi shallahu’alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha
8].Shahih At-Targhib wat Tarhiib
9].Dha’if At-Targhib wat Tarhiib
10].Fitnatut Takfiir
11].Jilbaab Al-Mar’atul muslimah
12].Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa ‘alaihis sallam wa qatluhu iyyahu fi akhiriz Zaman.

Selain itu murid-muridnya juga memiliki kaset hasil rekaman ceramahnya, bantahan terhadap berbagai syubhat dan jawaban terhadap berbagai masalah yang bermanfaat.

Telah terekam suatu kejadian (dan kejadian ini terdapat pada dua kaset – murid-murid beliau sering merekam pelajaran beliau), bahwa seorang laki-laki telah mengunjungi Syaikh Al-Albani di rumahnya di Yordania dan menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Nabi, Syaikh Al-Albani meminta lelaki itu duduk dan mendiskusikan pernyataannya tersebut dalam waktu yang lama, sehingga pada akhirnya, si tamu tersebut bertaubat dari klaimnya itu, si tamu pun kemudian menangis, dan semua yang hadir termasuk Syaikh Al-Albani pun turut menangis. Pada kenyataannya, Syaikh Al-Albani adalah salah satu ulama yang paling sering terlihat menangis ketika berbicara mengenai Allah, Rasul-Nya, dan muamalah antar Muslim.

Pada kejadian yang lain, Al-Albani dikunjungi tiga orang yang kesemuanya menuduhnya kafir. Ketika waktu sholat tiba, mereka menolak untuk bermakmum kepada Syaikh, mereka mengatakan bahwasanya tidak mungkin bagi seorang kafir menjadi Imam Sholat. Syaikh menerima hal ini, dan mengatakan bahwa menurut pandangannya, ketiga orang ini adalah Muslim, sehingga salah satu dari mereka berhak menjadi Imam Sholat. Tak lama kemudian, mereka bertiga berdiskusi lama sekali, bahkan mereka bertiga sempat beberapa lama berdebat mengenai perbedaan diantara mereka sendiri didepan Syaikh Al-Albani, dan ketika waktu sholat berikutnya telah tiba, tiba-tiba ketiga laki-laki ini mendesak untuk ikut sholat di belakang Syaikh Al-Albani sebagai makmum.

Pendidikan

Ketika Raja Ahmet Zogu naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhijrah ke Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang). Ia sekeluarga pun menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa Arab. Ia masuk madrasah yang dikelola Jum'iyah al-Is'af al-Khairiyah hingga kelas terakhir tingkat Ibtida'iyah. Selanjutnya, ia meneruskan belajarnya langsung kepada para syeikh ulama. Ia mempelajari al-Qur'an dari ayahnya sampai selesai, selain mempelajari pula sebagian fiqih madzhab, yakni madzhab Hanafi, dari ayahnya.

Al-Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga ia menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencariannya.

Pada umur dua puluh tahun, al-Albani mulai mengonsentrasikan diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah ''al-Manar'', sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni 'an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali. Kegiatan Al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya yang berkomentar, "Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit."

Namun, Al-Albani justru semakin menekuni dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab. Karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan azh-Zhahiriyah di sana (Damaskus), di samping juga meminjam buku dari beberapa perpustakaan khusus. Karena sibuknya, ia sampai-sampai menutup kios reparasi jamnya. Ia tidak pernah beristirahat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu salat tiba.

Akhirnya, kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya. Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, ia menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum pengunjung lain datang. Begitu pula, ketika orang lain pulang pada waktu salat dhuhur, ia justru pulang setelah salat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Situs-situs berikut menyediakan unduhan kitab-kitab karya Syaikh al-Albani:

http://www.alalbany.net/albany_books.php
http://www.waqfeya.com/list.php?cat=21 (edisi cetak)
http://www.almeshkat.net/books/list.php?cat=30
http://www.shamela.ws/list.php?cat=11 (Shamela eBooks)

۩۞۩๑BERITAISLAM๑۩۞۩
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Nashiruddin_Al-Albani

KISAH." KESEDERHANAAN UMAR IBN ABDUL AZIZ


Salamah ibn Dinar, seorang ‘alim Madinah, qadli dan syaikhnya. Ia menuturkan, “Aku mendatangi khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz, ia berada di “Khunashirah” daerah bagian “Halab.” Umurku telah lanjut dan sudah lama aku tidak menemuinya. Aku mendapatkannya berada di depan rumah, hanya saja aku tidak mengenalinya karena keadaannya telah berubah tidak seperti yang pernah aku kenal ketika ia menjabat sebagai gubernur Madinah. Ia kemudian mengucapkan selamat datang kepadaku dan berkata,
  • “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim.”aku mendekat kepadanya, aku berkata, “Bukankah engkau amirul mukminin Umar ibn Abdul Aziz?”
Ya...” jawabnya.
Aku berkata, “Apa yang telah terjadi denganmu?!! Bukankah wajahmu (dahulu) berseri, kulitmu segar dan kehidupanmu penuh kenikmatan.”
“Ya...” jawabnya.
  • Aku berkata, “Lalu apakah yang telah merubah penampilanmu setelah engkau memiliki emas dan perak, dan engkau menjadi seorang amir bagi kaum muslimin?”
“Apa yang telah berubah pada diriku wahai Abu Hazim?!” tanyanya.
  • Aku menjawab, “Badanmu (menjadi) kurus...kulitmu kasar...wajahmu menguning...dan pancaran kedua matamu sayu.”
Ia lantas menangis dan berkata, “Maka bagaimana bila kamu melihatku di dalam kubur setelah tiga hari?!...Kedua mataku meleleh di atas pipi...perutku terputus-putus dan robek-robek...dan ulat (belatung) bergerak menyantap badanku. Sesungguhnya apabila kamu melihatku pada saat itu –wahai Abu Hazim- niscaya kamu akan lebih terheran lagi dengan keadaanku daripada harimu ini.”
  • Ia kemudian mengangkat pandangannya kepadaku dan berkata, “Tidakkah kamu ingat sebuah hadits yang pernah kamu katakan kepadaku di Madinah wahai Abu Hazim?”Aku menjawab, “Aku telah menyampaikan kepadamu banyak hadits wahai amirul mukminin...(hadits) manakah yang engkau maksudkan?.”“Ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah” jawabnya.
“Ulangilah untukku, sesungguhnya aku ingin mendengarnya darimu.”
  • Aku berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di depan kalian ada jalan mendaki yang sulit dilalui, penuh dengan bahaya, tidak ada yang mampu melewatinya kecuali setiap orang yang berbadan kurus (karena banyak beribadah dan berjihad).”
Umar  menangis dengn begitu kerasnya hingga aku merasa takut kalau ulu hatinya menjadi pecah.Ia lalu mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata,
  • “Apakah kamu akan mencelaku wahai Abu Hazim apabila aku menguruskan badanku untuk jalan mendaki lg sukar tersebut, dengn harapan aku bisa selamat darinya...sedangkan aku tidk menganggap diriku bisa selamat.”

Bagi mereka, jabatan adalah identik dengan prestise, martabat, kehormatan, bahkan ladang penghasilan yang subur. Makanya gaya hidup mereka pun harus menyesuaikan dengan citra tersebut.
  • tapi tidak dg Umar Ibn Abdul Aziz..salah satu contoh pemimpin yg sederhana .. dan sll mengingat akan hari akhir
  dan sungguh rahmat Allah hanya untuk orng yg beriman ..dg sebenar2 nya iman..

[JANGAN HALANGI AKU MEMBELA RASULULLAH] (Kisah MUJAHIDAH MUSLIMAH SEJATI)"




Hari itu Nusaibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menebak, itu pasti tentara  musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. "Suamiku tersayang," Nusaibah berkata, "aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang."
 Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang...."
Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.
 Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.
"Ibu, salam dari Rasulullah," berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid..."
 Nusaibhah tertunduk sebentar, "*Inna lillah*....." gumamnya, "Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.
 Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar.  Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, "Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"
 Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi."
 Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah."
 Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. "Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur."
 Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu...."
 Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nusaibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, "Ada kabar apakah gerangan kiranya?" serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, "apakah
anakku gugur?"
 Utusan itu menunduk sedih, "Betul...."
  *Inna lillah*...." Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
 "Kau berduka, ya Ummu Amar?"
 Nusaibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak."
 Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, "Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani."
Nusaibah terperanjat. Ia memandangi putranya. "Kau tidak takut, nak?"
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, "Allahu akbar!"

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah. Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu kuduknya. "Hai utusan," ujarnya, "Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang."
Sang utusan mengerutkan keningnya. "Tapi engkau perempuan, ya Ibu...."
Nusaibah tersinggung, "Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu,  Rasulullah pun berkata dengan senyum. "Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan
mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur."
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai
singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera  mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud mengenalinya,
"Istri Said-kah engkau?"

Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, "bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?"
"Beliau tidak kurang suatu apapun..."
"Engkau Ibnu Mas'ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku...."
"Engkau masih luka parah, Nusaibah...."
"Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?"
Terpaksa Ibnu Mas'ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, "Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa."

Sumber: http://dakwatuna.com

REMPELAS.com Aman dalam Berbagi
DAPAT UANG